Amaliyah Langka Di Momen Idul
Fitri
Bersalaman sambil
bermaaf-maafan di hari raya Idul Fitri sudah jelas biasa kita lakukan. Demikian
pula dengan membagikan angpao lebaran pada anggota keluarga. Mengirimkan parcel
pada rekan kerja pun juga sudah menjadi tradisi. Jadi masih adakah amaliyah
utama lain di momen Idul Fitri yang masih jarang kita lakukan? Berikut adalah
daftar amaliyah utama yang mulai kita tinggalkan atau bahkan mungkin belum
pernah kita lakukan sebagai seorang muslim.
1.
Berkunjung Ke Rumah Guru Bersama Keluarga.
Berkunjung ke rumah
guru; baik guru sekolah maupun guru ngaji; memang masih sering dilakukan di
Indonesia, khususnya di daerah pedesaan. Apalagi banyak sekolah yang kini
menjadikan hal tersebut sebagai kegiatan wajib berupa pengumpulan tanda tangan
guru yang harus diserahkan pada wali murid ketika kegiatan belajar sekolah
sudah dimulai. Tetapi akan beda lagi kenyataannya kalau kita mencoba bertanya,
apakah wali muridnya juga ikut berkunjung?
Jalinan hubungan yang akrab antara guru dan wali murid
sebenarnya tidak terbantahkan urgensinya (kepentingannya) di era global seperti
saat ini. Hubungan yang akrab antara guru dan wali murid mau tidak mau akan
membuat putra putri kita lebih terawasi. Sebab para guru akan dengan cepat
(tanpa segan) segera memberi informasi manakala putra putri kita bermasalah di
sekolah. Momen Idul Fitri mestinya menjadi jawaban paling tepat untuk mengawali
hal tersebut. Bukankah anak-anak jaman dulu lebih terawasi dan terdidik lantaran
jarang sekali ada guru dan wali murid yang tidak saling kenal dengan baik?
2.
Pakaian Baru Untuk Tetangga Dlu’afa.
Seringkali kita merasa
sudah terbebas dari kewajiban sosial Idul Fitri setelah menyerahkan zakat
fitrah dan menyumbang beberapa rupiah untuk yayasan anak yatim dan dlu’afa. Padahal sebagai orang tua
tentunya kita menyadari bahwa hal yang seringkali paling membingungkan di momen
Idul Fitri tidak lain adalah membeli baju baru untuk anak-anak kita.
Kebingungan itu pula sebenarnya yang dialami oleh para orang
tua dari kalangan dlu’afa. Faktanya
mereka lebih membutuhkan uang untuk membeli baju baru bagi anak-anaknya,
dibandingkan dengan menyiapkan beras untuk makan. Sekali lagi momen Idul Fitri
adalah momen yang paling tepat untuk mengawali hal tersebut. Sebab bukankah
pemberian/sodaqoh terbaik adalah dengan cara memberikan apa yang paling
dibutuhkan?
3. Memberi
Hadiah Untuk Orang Tua.
Suatu ketika saya
pernah menyuruh salah satu anak didik saya yang berasal dari keluarga kaya
untuk menabung dengan cara menyisihkan sebagian uang saku sekolahnya. Tujuannya
hanya satu. Saya ingin agar dia membelikan pakaian baru untuk ayahnya yang
(maaf) kebetulan tergolong pemarah.
Awalnya murid saya itu menolak dengan alasan membeli pakaian
baru bukanlah hal yang sulit untuk ayahnya yang berduit. Tapi tetap saja saya
memaksanya. Faktanya, ketika akhirnya dia memberikan pakaian baru itu dalam
kado yang terbungkus rapi, sang ayah langsung memeluknya sambil menangis.
Ternyata memberikan hadiah dari usaha sendiri adalah hal yang sangat indah bagi
orang tua kaya raya sekalipun.
4.
Mengunjungi Rumah Karyawan.
Karyawan berhari raya ke rumah atasan, tentu bukan hal yang
luar biasa. Sebab hal tersebut seakan sudah menjadi agenda wajib yang cukup
efektif untuk “menghapus” kerasnya isi SP (Surat Peringatan) yang kemungkinan
pernah diterima. Atau setidaknya sebagai forum tidak resmi untuk menguatkan
ikatan kerja. Tetapi pernahkah Anda membayangkan bagaimana akibatnya jika
seorang pimpinan perusahaan/lembaga menyempatkan diri berkunjung secara pribadi
ke rumah beberapa karyawannya, apalagi yang kebetulan bermasalah dengan
perusahaan/lembaga yang dipimpinnya?
5. Merupakan
Tanggung Jawab Bersama.
Point berikutnya adalah
tugas kita bersama untuk terus mencari, sebenarnya amaliyah apa saja yang
seharusnya kita lakukan di momen Idul Fitri. Tidak perlu harus menemukan
jawaban yang sama. Sebab kondisi masing-masing kita yang berbeda tentu saja
akan memunculkan alternatif jawaban yang cenderung berbeda pula.
Idul Fitri adalah
sebuah momen yang indah tiada tara. Agama dan budaya kita pun sudah membuat
aturan-aturan luar biasa yang mendukung keindahannya. Tetapi tetap saja kita
sebagai orang beragama yang notabene makhluk sosial akan selalu menemukan
alternatif-alternatif baru selama kita memandang bahwa amaliyah kita harus
selalu mengalami peningkatan menuju tingkat yang lebih baik. Wallahu A’lam Bil Showaab.
(Alfin
Fauziyah)