Sabtu, 13 Juli 2013

MENGAPA BIRU MENJADI SIMBOL ILMU



MENGAPA BIRU MENJADI SIMBOL ILMU
Dalam Islam biru adalah warna yang sering dihubung-hubungin sama keilmuan, kema’rifatan, mm…pokoknya yang gitu-gitu deh. Intinya biru itu perlambang ilmu. Tapi kenapa? Nah itu yang mau saya terangin di sini, dari sisi ilmiah, bukan dalil.
Biru dikenal sebagai warna utama dari kawasan terbesar di muka bumi, yaitu laut. Tapi apa sih hubungannya laut yang biru itu dengan ilmu? Oke, tarik napas….baca basmalah, dan renungi keterangan di bawah ini.
1.
Laut selalu bertambah luas. Dibendung seperti apapun, tetap aja ombaknya memaksa “menjarah” tanah yang masih kering. Itu artinya orang berilmu nggak pernah boleh berhenti belajar apalagi sok udah mumpuni. Harus terus mengejar ilmu sampai ke batas akhirnya; walau kenyataannya dia nggak akan pernah tamat; karena ilmu emang nggak akan pernah ada habisnya.
2.
Bagian dalam laut itu airnya tawar. Pengaruh massa garam yang lebih ringan dibanding air membuat kadar garam hanya ada di sedikit kedalaman dari bagian permukaan laut. So silahkan aja orang berilmu tuh kontroversi, nyentrik, atau apalah namanya. Tapi tetap harus bisa menjaga agar bagian dalam hatinya tetap tawar. Jangan malah ikutan asin sampai ke bagian batinnya.
3.
Ombak yang menyapu pantai selalu sejajar. Ombak di tengah laut nggak menentu arahnya mengikuti arah hembusan angin. Tapi saat ombak itu bersinggungan dengan dasar pinggiran pantai, mau nggak mau dia berbelok dalam arah yang sejajar. Berbagai jenis ilmu emang ada yang nyaris terkesan bertolak belakang. Tapi ketika disatukan, nggak boleh tuh berjalan sendiri-sendiri. Harus menjadi satu kesatuan yang sejajar alias saling mendukung. So narsis banget tuh kalau sampai ada yang ngomong kalau ilmu A lebih penting dari ilmu B. Semuanya sama pentingnya.
4.
Laut bereaksi mengikuti bulan. Pasang surut air laut terpengaruh oleh bulan. Itu artinya, seluas/sebanyak apapun ilmu yang kita punya, kita tetap harus punya guru sebagai panutan. Jangan lantas udah jadi guru atau ustadz terus merasa nggak pantas buat berguru lagi. Hm…entar malah jadi orang pintar yang menyesatkan, karena nggak tahu kapan waktunya buat pasang (tampil) dan kapan waktunya buat surut (diam menunggu waktu yang tepat).
5.
Semua pantai di dunia selalu sejuk. Angin bergerak dari yang bertemperatur tinggi menuju yang lebih rendah. Itu sebabnya kawasan pantai selalu berangin atau nggak gerah. Orang berilmu pun harus kayak gitu. Ilmu yang dimilikinya mesti bisa memberikan kesejukan pada murid atau para pengikutnya. Jangan malah bikin mereka jadi beringas dan kehilangan obyektifitas.
6.
Ikan di laut rasanya tetap tawar. Mau hidup di laut seribu tahun pun, tetap aja ikan di laut tuh dagingnya nggak ikut jadi asin. So orang berilmu boleh-boleh aja memberanikan diri buat terjun di kalangan yang “asin”. Tapi dia tetap harus bisa menjaga agar nggak ikutan jadi asin. Sesumbarnya aja masuk lokalisasi buat ngajak para WTS mencari hidayah Allah, eh nggak tahunya malah ikutan bobok sama si WTS. Malu-maluin tuh.

Semoga kita semua bisa jadi orang berilmu yang bisa ngamalin kehebatan filosofi lautan. Kalaupun orang Eropa menjadikan warna biru sebagai lambang kesedihan, ini pun tetap sejalan dengan filosofi ilmu berdasarkan laut. Orang pintar emang udah seharusnya selalu bersedih karena ilmunya nggak bertambah sebanyak yang semestinya dia kuasai sebagai seorang hamba Tuhan. Wallahu A’lam bish Showaab.

(El-Fath Satria)

Tidak ada komentar: