MENGAPA BIRU MENJADI SIMBOL ILMU
Dalam
Islam biru adalah warna yang sering dihubung-hubungin sama keilmuan, kema’rifatan,
mm…pokoknya yang gitu-gitu deh. Intinya biru itu perlambang ilmu. Tapi kenapa?
Nah itu yang mau saya terangin di sini, dari sisi
ilmiah, bukan dalil.
Biru
dikenal sebagai warna utama dari kawasan terbesar di muka bumi, yaitu laut. Tapi
apa sih hubungannya laut yang biru itu dengan ilmu? Oke, tarik napas….baca basmalah, dan renungi keterangan di
bawah ini.
|
1.
|
Laut selalu bertambah luas. Dibendung seperti apapun, tetap aja ombaknya
memaksa “menjarah” tanah yang masih kering. Itu artinya orang berilmu nggak
pernah boleh berhenti belajar apalagi sok udah mumpuni. Harus terus mengejar
ilmu sampai ke batas akhirnya; walau kenyataannya dia nggak akan pernah tamat;
karena ilmu emang nggak akan pernah ada habisnya.
|
|
2.
|
Bagian dalam laut itu airnya tawar. Pengaruh massa garam yang lebih ringan dibanding
air membuat kadar garam hanya ada di sedikit kedalaman dari bagian permukaan
laut. So silahkan aja orang berilmu tuh kontroversi, nyentrik, atau apalah
namanya. Tapi tetap harus bisa menjaga agar bagian dalam hatinya tetap tawar.
Jangan malah ikutan asin sampai ke bagian batinnya.
|
|
3.
|
Ombak yang menyapu pantai selalu sejajar. Ombak di tengah laut nggak menentu arahnya
mengikuti arah hembusan angin. Tapi saat ombak itu bersinggungan dengan dasar
pinggiran pantai, mau nggak mau dia berbelok dalam arah yang sejajar.
Berbagai jenis ilmu emang ada yang nyaris terkesan bertolak belakang. Tapi ketika
disatukan, nggak boleh tuh berjalan sendiri-sendiri. Harus menjadi satu kesatuan
yang sejajar alias saling mendukung. So narsis banget tuh kalau sampai ada
yang ngomong kalau ilmu A lebih penting dari ilmu B. Semuanya sama
pentingnya.
|
|
4.
|
Laut bereaksi mengikuti bulan. Pasang surut air laut terpengaruh oleh bulan. Itu
artinya, seluas/sebanyak apapun ilmu yang kita punya, kita tetap harus punya
guru sebagai panutan. Jangan lantas udah jadi guru atau ustadz terus merasa
nggak pantas buat berguru lagi. Hm…entar malah jadi orang pintar yang
menyesatkan, karena nggak tahu kapan waktunya buat pasang (tampil) dan kapan
waktunya buat surut (diam menunggu waktu yang tepat).
|
|
5.
|
Semua pantai di dunia selalu sejuk. Angin bergerak dari yang bertemperatur tinggi
menuju yang lebih rendah. Itu sebabnya kawasan pantai selalu berangin atau
nggak gerah. Orang berilmu pun harus kayak gitu. Ilmu yang dimilikinya mesti
bisa memberikan kesejukan pada murid atau para pengikutnya. Jangan malah
bikin mereka jadi beringas dan kehilangan obyektifitas.
|
|
6.
|
Ikan di laut rasanya tetap tawar. Mau hidup di laut seribu tahun pun, tetap aja ikan
di laut tuh dagingnya nggak ikut jadi asin. So orang berilmu boleh-boleh aja
memberanikan diri buat terjun di kalangan yang “asin”. Tapi dia tetap harus
bisa menjaga agar nggak ikutan jadi asin. Sesumbarnya aja masuk lokalisasi
buat ngajak para WTS mencari hidayah Allah, eh nggak tahunya malah ikutan
bobok sama si WTS. Malu-maluin tuh.
|
Semoga
kita semua bisa jadi orang berilmu yang bisa ngamalin kehebatan filosofi
lautan. Kalaupun orang Eropa menjadikan warna biru sebagai lambang kesedihan,
ini pun tetap sejalan dengan filosofi ilmu berdasarkan laut. Orang pintar emang
udah seharusnya selalu bersedih karena ilmunya nggak bertambah sebanyak yang
semestinya dia kuasai sebagai seorang hamba Tuhan. Wallahu A’lam bish Showaab.
(El-Fath Satria)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar