API UNTUK ULAMA LEBAY
Sang
Kyai datang ke tempat pengajian. Ups! Ngapain tuh para pengurus pesantren kok tiba-tiba
sibuk? Hh…ternyata mereka berebut menggelar sajadah masing-masing di lantai
yang akan dilewati oleh sang Kyai. Emang harus segitunya ya kalau mau
menghormati ulama?
Ulama
adalah sosok yang wajib dimuliakan. Sekedar memandang wajahnya dengan perasaan
cinta aja udah dapat pahala. Tapi apa lantas kita harus mengagung-agungkan
mereka secara lebay gitu sih. Bukankah pengkultusan seseorang secara berlebihan
itu haram
dalam Islam. Dan bukankah pengkultusan itu pula yang berkali-kali menjadi
sumber bencana besar dalam sejarah.
Saya
jadi ingat sebuah kejadian tak terlupakan ketika KH. Hasyim Muzaddi (Malang)
datang ke Pondok Pesantren Al-Hidayah Sidoarjo. Saat itu saya dengan khidmat
berusaha membukakan pintu mobil beliau. Tapi…..bukannya pujian yang saya
peroleh. Walau sambil tersenyum, beliau malah menegur saya. “ Lain kali biar
saya buka pintu sendiri, Nak. Saya diberi tangan yang masih berfungsi dengan
baik oleh Allah. Kalau saya mau menerima bantuan Sampean (kamu), berarti saya kufur dengan nikmat Allah “.
Subhaanallah. Sebuah ucapan sederhana yang menggambarkan sebuah
kebesaran dari seorang ulama bertaraf internasional. Saya sering berjumpa
dengan banyak ulama, baik yang sudah kondang atau pun yang baru aja “mengorbit”.
Tapi mengapa kebesaran dari sebuah kesederhanaan itu malah jarang saya jumpai?
Mengapa yang banyak saya temui malah sosok ulama yang nggak “original”?
Sebenarnya
nggak akan ada jama’ah sebuah majlis ta’lim yang mengagung-agungkan gurunya
tapi memandang rendah jama’ah yang lain, seandainya sang guru mau berkata, “Saya
ini manusia biasa. Jadi tetap mungkin salah. Keberadaan kalian di samping saya
adalah untuk mengingatkan saya manakala saya melakukan kesalahan “. Jama’ah yang
mengatakan “melihat
wajah beliau serasa saya sedang melihat wajah Nabi Muhammad” pun
nggak akan ada, seandainya sang guru dengan kerendahan hatinya senantiasa
mengingatkan, “ Saya ini tidak lebih dari sekedar umat Nabi Muhammad yang
diperhitungkan menurut kadar taqwanya seperti kalian, bukan kadar nasabnya
(keturunan). Karena nasab saya tidak akan berpengaruh apa-apa di hadapan Allah”.
Kita
adalah muslim merdeka di sebuah negara yang sudah lama diakui kemerdekaannya.
Jadi demi tegaknya Islam dengan benar, mari kita mulai menghormati guru kita
tanpa berusaha menjajah muslim lain yang nggak berada di majlis ta’lim yang
sama dengan kita. Kullukum roo’in, wa
kullu roo’in mas’uulun ‘an ro’iyyatih. Masing-masing dari kalian adalah pemimpin, dan setiap
pemimpin akan diminta pertangungjawaban atas kepemimpinannya. Itu
artinya ulama yang justru menikmati pengkultusan atas dirinya, suatu saat akan
berada di barisan paling depan di pintu neraka karena telah membiarkan anak
buahnya berada dalam kesesatan yang nyata.
Menghormati
ulama itu wajib hukumnya. Memusuhi ulama pun jelas diharamkan dan dilaknat oleh
Allah. Tapi mengkultuskan mereka adalah sebuah bentuk kesyirikan yang samar, dan Allah
tidak akan pernah mengampuni dosa akibat syirik. Semoga bulan suci ini menjadi
awal dari kesadaran kita bahwa ulama-ulama mulia terdahulu telah sering
mengingatkan bahwa akhir jaman akan dipenuhi oleh Ulama’ Suu’ (ulama berperangai salah). Na’udzu billahi min dzaalik.
(Sang Pendosa)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar