Senin, 15 Juli 2013

API UNTUK ULAMA LEBAY



API UNTUK ULAMA LEBAY
Sang Kyai datang ke tempat pengajian. Ups! Ngapain tuh para pengurus pesantren kok tiba-tiba sibuk? Hh…ternyata mereka berebut menggelar sajadah masing-masing di lantai yang akan dilewati oleh sang Kyai. Emang harus segitunya ya kalau mau menghormati ulama?
Ulama adalah sosok yang wajib dimuliakan. Sekedar memandang wajahnya dengan perasaan cinta aja udah dapat pahala. Tapi apa lantas kita harus mengagung-agungkan mereka secara lebay gitu sih. Bukankah pengkultusan seseorang secara berlebihan itu haram dalam Islam. Dan bukankah pengkultusan itu pula yang berkali-kali menjadi sumber bencana besar dalam sejarah.
Saya jadi ingat sebuah kejadian tak terlupakan ketika KH. Hasyim Muzaddi (Malang) datang ke Pondok Pesantren Al-Hidayah Sidoarjo. Saat itu saya dengan khidmat berusaha membukakan pintu mobil beliau. Tapi…..bukannya pujian yang saya peroleh. Walau sambil tersenyum, beliau malah menegur saya. “ Lain kali biar saya buka pintu sendiri, Nak. Saya diberi tangan yang masih berfungsi dengan baik oleh Allah. Kalau saya mau menerima bantuan Sampean (kamu), berarti saya kufur dengan nikmat Allah “.
Subhaanallah. Sebuah ucapan sederhana yang menggambarkan sebuah kebesaran dari seorang ulama bertaraf internasional. Saya sering berjumpa dengan banyak ulama, baik yang sudah kondang atau pun yang baru aja “mengorbit”. Tapi mengapa kebesaran dari sebuah kesederhanaan itu malah jarang saya jumpai? Mengapa yang banyak saya temui malah sosok ulama yang nggak “original”?
Sebenarnya nggak akan ada jama’ah sebuah majlis ta’lim yang mengagung-agungkan gurunya tapi memandang rendah jama’ah yang lain, seandainya sang guru mau berkata, “Saya ini manusia biasa. Jadi tetap mungkin salah. Keberadaan kalian di samping saya adalah untuk mengingatkan saya manakala saya melakukan kesalahan “. Jama’ah yang mengatakan “melihat wajah beliau serasa saya sedang melihat wajah Nabi Muhammad” pun nggak akan ada, seandainya sang guru dengan kerendahan hatinya senantiasa mengingatkan, “ Saya ini tidak lebih dari sekedar umat Nabi Muhammad yang diperhitungkan menurut kadar taqwanya seperti kalian, bukan kadar nasabnya (keturunan). Karena nasab saya tidak akan berpengaruh apa-apa di hadapan Allah”.
Kita adalah muslim merdeka di sebuah negara yang sudah lama diakui kemerdekaannya. Jadi demi tegaknya Islam dengan benar, mari kita mulai menghormati guru kita tanpa berusaha menjajah muslim lain yang nggak berada di majlis ta’lim yang sama dengan kita. Kullukum roo’in, wa kullu roo’in mas’uulun ‘an ro’iyyatih. Masing-masing dari kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan diminta pertangungjawaban atas kepemimpinannya. Itu artinya ulama yang justru menikmati pengkultusan atas dirinya, suatu saat akan berada di barisan paling depan di pintu neraka karena telah membiarkan anak buahnya berada dalam kesesatan yang nyata.
Menghormati ulama itu wajib hukumnya. Memusuhi ulama pun jelas diharamkan dan dilaknat oleh Allah. Tapi mengkultuskan mereka adalah sebuah bentuk kesyirikan yang samar, dan Allah tidak akan pernah mengampuni dosa akibat syirik. Semoga bulan suci ini menjadi awal dari kesadaran kita bahwa ulama-ulama mulia terdahulu telah sering mengingatkan bahwa akhir jaman akan dipenuhi oleh Ulama’ Suu’ (ulama berperangai salah). Na’udzu billahi min dzaalik.

(Sang Pendosa)

Tidak ada komentar: