Kamis, 27 Juni 2013

MIMPI BERTEMU NABI MUHAMMAD, ENGGAK DEH



MIMPI BERTEMU NABI MUHAMMAD, ENGGAK DEH 

       Mimpi bertemu Sunan Kalijaga, belum tentu benar. Bisa jadi itu jin yang menyamar jadi beliau. Mimpi ketemu pacar, rugi banget. Mending langsung diajak nikah aja. Tapi mimpi bertemu Baginda Rasul, hm…siapa sih yang nggak pengen. Apalagi cukup banyak dalil valid yang menyatakan bahwa mimpi bertemu beliau itu udah pasti benar. Kalau pun ada jin yang menyamar jadi beliau, serta merta orang yang lagi mimpi bakal menolak. Alhamdulillah. Kita berbeda masa dengan Nabi Muhammad SAW. Tapi sejak lahir kita sudah dikaruniai “detektor” yang bisa mengetahui ini beneran beliau apa enggak. Tapi benarkah kalau kita mimpi bertemu Nabi Muhammad itu salah satu indikasi bahwa kita adalah hamba yang istimewa?
       Dekat dengan pucuk pimpinan memang menjanjikan berbagai kemudahan. Tapi perlu dilihat dulu, sang pemimpin itu datang sebagai apa dan siapa. Dekat dengan presiden, asyik banget tuh. Walau presidennya nggak pakai nyuruh, semua paspampres yang sangar itu bakal pasang wajah ramah. Bukan salah sang presiden. Tapi itu murni bonus yang udah selayaknya kita dapat. Bukan salah paspampres-nya juga. Sebab kedekatan kita sama presiden membuat kita jadi agak dicoret dari daftar orang-orang yang mencurigakan. Impas. Tapi siapa yang paling dekat sama pimpinan keamanan alias polisi? Jawabannya tentu aja para penjahat. Saking cintanya, polisinya sampai ngikutin si penjahat ke mana-mana lho.
       Nah mimpi bertemu Nabi Muhammad pun nggak beda jauh. Di satu sisi siapa yang mimpi bertemu beliau, kemungkinan adalah orang yang sangat beliau cintai. Saking cintanya, Baginda Rasul sampai meluangkan waktu untuk datang dalam mimpinya. Tapi perlu diingat juga kalau semua Rasul termasuk Nabi Muhammad itu selalu ditugaskan untuk membenahi umat yang terburuk. Semua Rasul selalu diturunkan ke dalam kaum terparah di muka bumi. Jadi muncul pula sebuah kemungkinan lain. Kalau saya mimpi bertemu Baginda Rasul, jangan-jangan itu karena saking kotornya saya. Jadi mesti beliau sendiri yang harus turun tangan untuk mengingatkan saya. Para Ulama nggak bakal mempan. Susah deh kalau kayak gini.
       Saya jadi ingat sama salah satu teman saya sesama guru di pesantren. Saat itu dia bermimpi bertemu Baginda Rasul. Dalam mimpinya, Baginda Rasul menyuruhnya untuk memanjangkan rambutnya sebahu persis seperti rambut beliau. Dengan bangganya teman saya itu menemui Pak Kyai dan langsung menceritakan mimpinya. Tapi apa jawaban Pak Kyai? Di luar dugaan Pak Kyai langsung menangis sedih. Beliau berkata bahwa rambut itu adalah perlambang akhlaq atau budi pekerti. Jadi Baginda Rasul sebenarnya ingin mengingatkan agar teman saya itu mau meniru akhlaq mulia beliau. Asal tahu aja (maaf), teman saya itu memang pintar. Tapi dia sering jadi gunjingan para santri lantaran akhlaqnya yang nggak bisa ditiru. Mentang-mentang, sombong, temperamental, hingga tak ada satu pun santri yang berani mengkritiknya.
       Masih pengen mimpi bertemu Nabi Muhammad? Kalau saya sih masih pengen. Gimana pun itu adalah mimpi terindah yang mungkin dialami oleh seorang muslim. Tapi semoga aja nantinya mental saya siap buat mengintropeksi diri. Saya bertemu beliau dalam mimpi karena saya istimewa atau malah karena saya badung banget sampai harus Baginda Rasul sendiri yang mesti turun tangan. Mm….saya yakin banget kemungkinan yang kedua tuh yang benar. Tapi gimana pun saya tetap pengen mimpi bertemu beliau. Mau disayang, dinasehati, atau bahkan malah dijewer; nggak ada bedanya. Yang penting mimpi.

(El-Fath Satria)

2 komentar:

Anonim mengatakan...

ngipi lu

Unknown mengatakan...

ha..ha...boleh aja kan brharap