MIMPI BERTEMU NABI MUHAMMAD, ENGGAK DEH
Mimpi bertemu Sunan Kalijaga, belum tentu benar. Bisa jadi
itu jin yang menyamar jadi beliau. Mimpi ketemu pacar, rugi banget. Mending
langsung diajak nikah aja. Tapi mimpi bertemu Baginda Rasul, hm…siapa sih yang
nggak pengen. Apalagi cukup banyak dalil valid yang menyatakan bahwa mimpi
bertemu beliau itu udah pasti benar. Kalau pun ada jin yang menyamar jadi beliau, serta merta orang yang lagi
mimpi bakal menolak. Alhamdulillah. Kita
berbeda masa dengan Nabi Muhammad SAW. Tapi sejak lahir kita sudah dikaruniai
“detektor” yang bisa mengetahui ini beneran beliau apa enggak. Tapi benarkah
kalau kita mimpi bertemu Nabi Muhammad itu salah satu indikasi bahwa kita
adalah hamba yang istimewa?
Dekat dengan pucuk pimpinan memang menjanjikan berbagai
kemudahan. Tapi perlu dilihat dulu, sang pemimpin itu datang sebagai apa dan
siapa. Dekat dengan presiden, asyik banget tuh. Walau presidennya nggak pakai
nyuruh, semua paspampres yang sangar itu bakal pasang wajah ramah. Bukan salah
sang presiden. Tapi itu murni bonus yang udah selayaknya kita dapat. Bukan salah
paspampres-nya juga. Sebab kedekatan kita sama presiden membuat kita jadi agak
dicoret dari daftar orang-orang yang mencurigakan. Impas. Tapi siapa yang
paling dekat sama pimpinan keamanan alias polisi? Jawabannya tentu aja para
penjahat. Saking cintanya, polisinya sampai ngikutin si penjahat ke mana-mana
lho.
Nah mimpi bertemu Nabi Muhammad pun nggak beda jauh. Di
satu sisi siapa yang mimpi bertemu beliau, kemungkinan adalah orang yang sangat
beliau cintai. Saking cintanya, Baginda Rasul sampai meluangkan waktu untuk
datang dalam mimpinya. Tapi perlu diingat juga kalau semua Rasul termasuk Nabi
Muhammad itu selalu ditugaskan untuk membenahi umat yang terburuk. Semua Rasul
selalu diturunkan ke dalam kaum terparah di muka bumi. Jadi muncul pula sebuah
kemungkinan lain. Kalau saya mimpi bertemu Baginda Rasul, jangan-jangan itu
karena saking kotornya saya. Jadi mesti beliau sendiri yang harus turun tangan
untuk mengingatkan saya. Para Ulama nggak bakal mempan. Susah deh kalau kayak
gini.
Saya jadi ingat sama salah satu teman saya sesama guru di
pesantren. Saat itu dia bermimpi bertemu Baginda Rasul. Dalam mimpinya, Baginda
Rasul menyuruhnya untuk memanjangkan rambutnya sebahu persis seperti rambut
beliau. Dengan bangganya teman saya itu menemui Pak Kyai dan langsung
menceritakan mimpinya. Tapi apa jawaban Pak Kyai? Di luar dugaan Pak Kyai
langsung menangis sedih. Beliau berkata bahwa rambut itu adalah perlambang
akhlaq atau budi pekerti. Jadi Baginda Rasul sebenarnya ingin mengingatkan agar
teman saya itu mau meniru akhlaq mulia beliau. Asal tahu aja (maaf), teman saya
itu memang pintar. Tapi dia sering jadi gunjingan para santri lantaran
akhlaqnya yang nggak bisa ditiru. Mentang-mentang, sombong, temperamental,
hingga tak ada satu pun santri yang berani mengkritiknya.
Masih pengen mimpi bertemu Nabi Muhammad? Kalau saya sih
masih pengen. Gimana pun itu adalah mimpi terindah yang mungkin dialami oleh
seorang muslim. Tapi semoga aja nantinya mental saya siap buat mengintropeksi
diri. Saya bertemu beliau dalam mimpi karena saya istimewa atau malah karena
saya badung banget sampai harus Baginda Rasul sendiri yang mesti turun tangan.
Mm….saya yakin banget kemungkinan yang kedua tuh yang benar. Tapi gimana pun
saya tetap pengen mimpi bertemu beliau. Mau disayang, dinasehati, atau bahkan
malah dijewer; nggak ada bedanya. Yang penting mimpi.
(El-Fath Satria)
2 komentar:
ngipi lu
ha..ha...boleh aja kan brharap
Posting Komentar