Kamis, 13 Juni 2013

ULAMA SEJATI WAJIB JAGO KANDANG



ULAMA SEJATI WAJIB JAGO KANDANG
Siapa sih yang mau disebut jago kandang? Pemain sebuah klub sepakbola pasti malu banget kalau dikasih predikat itu. guru, pelajar, bahkan seorang preman sekalipun jelas alergi dengan yang namanya jago kandang. Tapi uniknya buat seorang ulama, jago kandang itu wajib lho. Bukan ulama namanya kalau nggak jago kandang.
Nggak usah emosi dulu. Dengerin nih. Nabi Muhammad SAW. adalah seorang nabi yang mengandalkan uswatun khasanah (suri tauladan) sebagai senjata utama dakwah beliau. Beliau nggak sekedar menjadi sosok pemimpin agama yang bisanya cuman ngasih intruksi. Beliau justru selalu berdiri paling depan untuk memberikan contoh praktek dari ajaran yang beliau bawa. Nyatanya….Nabi Muhammad memang luar biasa. Basharun laa kal basyari, manusia tapi nggak kayak manusia alias nyaris sempurna.
Tentunya udah pada hapal kan sama hadits yang menyatakan bahwa ulama itu pewaris misi Nabi. So nggak salah kan kalau para pewaris itu dituntut untuk “sama” dengan yang memberikan waris. Tapi seberapa penting sebenarnya predikat jago kandang buat seorang ulama?
Gini, Saudaraku. Kebesaran seorang pemimpin diukur dari seberapa besar wibawanya di hadapan para anak buah dan seberapa besar cinta mereka padanya. Harus benar-benar murni tanpa rekayasa, karena selalu ada Allah yang mengawasinya. Seorang jago berzina dari Surabaya akan dikenal sebagai orang baik setelah menolong seorang wanita di Jakarta (dan sebaliknya). Padahal ketika pulang ke daerah asalnya, dia kembali menjadi ahli zina. Gampang banget karena masyarakat Jakarta nggak tahu belang di balik sikap manisnya. Itu artinya image atau istilah trend-nya pencitraan adalah hal yang sangat mudah dilakukan. Masalahnya, itu kan namanya munafik. Orang munafik bakal menempati kerak terbawah dari neraka dan nggak mungkin seorang ulama sejati pantas mendapatkan itu.
“Jangan pernah tinggalkan jamaah sholat Subuh di masjid!! Harta hanya titipan dari Allah. Jadi jangan jadi muslim yang pelit. Ingat hak fakir miskin yang ada dalam hartamu“, begitu koar seorang juru dakwah di suatu tempat. Para peserta pengajian yang nggak aktif jamaah Subuh dan pelit serentak menundukkan kepala saking malunya. Padahal apa jawab tetangga si juru dakwah ketika ditanya masalah itu, “Waduh, Mas. Boro-boro jamaah. Bangun Subuh aja nggak pernah. Dermawan? Gombal banget. Diminta sumbangan buat anak yatim aja cuman ngasih seribu perak. Itu aja kalau pas hatinya lagi bolong”. Nah, Lho.
Oke, Brother. Mulai hari ini kalau kalian mau memuja seorang ulama teliti dulu deh. Tanya sama para tetangganya, beneran layak jadi suri tauladan apa cuman akting tuh baiknya. Memang sih kita juga nggak boleh menutup mata sama jasa para oknum juru dakwah bohongan itu dalam penyebaran ajaran agama Islam. Tapi akan jauh lebih baik kalau kita memilih guru atau mengundang juru dakwah yang beneran baik. Ingat sebuah sabda Nabi Muhammad tentang kondisi akhir jaman, “Qoliilul Ulama’ wa Katsiirul Khuthobaa’ ”, jumlah Ulama bakalan dikit banget, yang banyak tuh ahli omong kosong. Jauh lebih banyak tukang kritik dibandingin orang yang beneran mau bertindak mengatasi masalah sosial. Hm….nggak beda jauh sama komentator bola yang piawai berbicara tapi nggak bisa nendang bola dengan benar. Hidup, Ulama Jago Kandang !!!

(El-Fath Satria)

Tidak ada komentar: