ULAMA SEJATI WAJIB JAGO
KANDANG
Siapa sih yang mau disebut jago kandang? Pemain sebuah klub
sepakbola pasti malu banget kalau dikasih predikat itu. guru, pelajar, bahkan
seorang preman sekalipun jelas alergi dengan yang namanya jago kandang. Tapi
uniknya buat seorang ulama, jago kandang itu wajib lho. Bukan ulama namanya
kalau nggak jago kandang.
Nggak usah emosi dulu. Dengerin nih. Nabi Muhammad SAW.
adalah seorang nabi yang mengandalkan uswatun
khasanah (suri tauladan) sebagai senjata utama dakwah beliau. Beliau nggak
sekedar menjadi sosok pemimpin agama yang bisanya cuman ngasih intruksi. Beliau
justru selalu berdiri paling depan untuk memberikan contoh praktek dari ajaran
yang beliau bawa. Nyatanya….Nabi Muhammad memang luar biasa. Basharun laa kal basyari, manusia tapi
nggak kayak manusia alias nyaris sempurna.
Tentunya udah pada hapal kan sama hadits yang menyatakan
bahwa ulama itu pewaris misi Nabi. So nggak salah kan kalau para pewaris itu
dituntut untuk “sama” dengan yang memberikan waris. Tapi seberapa penting
sebenarnya predikat jago kandang buat seorang ulama?
Gini, Saudaraku. Kebesaran seorang pemimpin diukur dari
seberapa besar wibawanya di hadapan para anak buah dan seberapa besar cinta
mereka padanya. Harus benar-benar murni tanpa rekayasa, karena selalu ada Allah
yang mengawasinya. Seorang jago berzina dari Surabaya akan dikenal sebagai
orang baik setelah menolong seorang wanita di Jakarta (dan sebaliknya). Padahal
ketika pulang ke daerah asalnya, dia kembali menjadi ahli zina. Gampang banget
karena masyarakat Jakarta nggak tahu belang di balik sikap manisnya. Itu
artinya image atau istilah trend-nya pencitraan adalah hal yang sangat mudah
dilakukan. Masalahnya, itu kan namanya munafik. Orang munafik bakal menempati
kerak terbawah dari neraka dan nggak mungkin seorang ulama sejati pantas
mendapatkan itu.
“Jangan pernah tinggalkan jamaah sholat Subuh di masjid!!
Harta hanya titipan dari Allah. Jadi jangan jadi muslim yang pelit. Ingat hak
fakir miskin yang ada dalam hartamu“, begitu koar seorang juru dakwah di suatu
tempat. Para peserta pengajian yang nggak aktif jamaah Subuh dan pelit serentak
menundukkan kepala saking malunya. Padahal apa jawab tetangga si juru dakwah
ketika ditanya masalah itu, “Waduh, Mas. Boro-boro jamaah. Bangun Subuh aja
nggak pernah. Dermawan? Gombal banget. Diminta sumbangan buat anak yatim aja
cuman ngasih seribu perak. Itu aja kalau pas hatinya lagi bolong”. Nah, Lho.
Oke, Brother. Mulai
hari ini kalau kalian mau memuja seorang ulama teliti dulu deh. Tanya sama para
tetangganya, beneran layak jadi suri tauladan apa cuman akting tuh baiknya. Memang
sih kita juga nggak boleh menutup mata sama jasa para oknum juru dakwah
bohongan itu dalam penyebaran ajaran agama Islam. Tapi akan jauh lebih baik
kalau kita memilih guru atau mengundang juru dakwah yang beneran baik. Ingat
sebuah sabda Nabi Muhammad tentang kondisi akhir jaman, “Qoliilul Ulama’ wa Katsiirul Khuthobaa’ ”, jumlah Ulama bakalan
dikit banget, yang banyak tuh ahli omong kosong. Jauh lebih banyak tukang
kritik dibandingin orang yang beneran mau bertindak mengatasi masalah sosial.
Hm….nggak beda jauh sama komentator bola yang piawai berbicara tapi nggak bisa
nendang bola dengan benar. Hidup, Ulama Jago Kandang !!!
(El-Fath
Satria)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar